Skip to content

Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi Di Indonesia





TUGAS KODE ETIK psikologi

Dosen Pengampu:

WidiFajar W. S.Psi., M.HRM



Disusun oleh:

Wahyuni ( 611 5111 013 )

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA

TAHUN PELAJARAN 2013/2014


1.



Soal 1. Pasal yang perlu diubah (ditambah atau dikurangi) dari Kode Etik tahun 2010:


BAB
I


PEDOMAN
UMUM

Pasal
1

PENGERTIAN


1.




KODE ETIK PSIKOLOGI


adalah seperangkat nilai-nilai

sertaaturan-aturanyang harus


ditaati dan dijalankan dengan sebaik-baiknya dalam melaksanakan kegiatan s

ebagai

psikolog dan ilmuwan psikologi di Indonesia.


BAB



II


MENGATASI ISU ETIKA

Pasal 3



MAJELIS PSIKOLOGI INDONESIA

(3) Apabila terdapat masalah etika dalam pemberian jasa dan atau praktik psikologi yang belum diatur dalam kode etik psikologi Indonesia maka Himpunan Psikologi Indonesia wajib mengundang Majelis Psikologi untuk membahas dan merumuskannya, kemudian disahkan dalam sebuah Rapat yang dimaksudkan untuk
masalah etika tersebut.

Pasal 4



PENYALAHGUNAAN PEKERJAAN DI BIDANG PSIKOLOGI

(4).Penjelasantentangjenispelanggarandansanksiakandiaturdalamaturan yang telahditetapkandalamAnggaranDasar, AnggaranRumahTanggaHimpunanPsikologi Indonesia danKodeEtikPsikologi Indonesia.

Pasal

5

PENYELESAIAN
ISU ETIKA

(5) Kerjasama antara

Pengurus
Himpunan Psikologi Indonesia


dan Majelis Psikologi Indonesia menjadi bahan pertimbangan dalam penyelesaian kasus pelanggaran Kode Etik. Kerjasama tersebut dapat dilakukan dalam pelaksanaan tindakan investigasi, proses penyidikan dan persyaratan yang diperlukan untuk dapat mencapai hasil yang diharapkan dengan memanfaatkan
sistem di dalamorganisasi yang ada. Dalam pelaksanaannya diusahakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dengan tetap memegang teguh
prinsip
kerahasiaan
dan bersikap profesional.


(6)



Apabila terjadi pelanggaran Kode Etik Psikologi Indonesia, Pengurus Pusat bekerjasama dengan Pengurus Wilayah terkait dapat memberi masukan kepada Majelis Psikologi Wilayah atau Pusat
dengan prosedur sebagai berikut:


a.



Mengadakan pertemuan guna membahas masalah tersebut.


b.



Meminta klarifikasi kepada pihak yang melakukan pelanggaran


c.



Berdasarkan klarifikasi menentukan jenis pelanggaran



d.





Memutuskan sanksi yang tepat sesuai dengan jenis pelanggaran


BAB
III


KOMPETENSI

Pasal 7

RUANG LINGKUP KOMPETENSI

Popular:   Hubungan Psikologi Dakwah Dengan Ilmu Lain


(5)





Dalam menjalankan peran forensik, selain memiliki kompetensi praktik psikologi sebagaimana tersebut di atas, Psikolog perlu
mengetahui dan paham tentang

peraturan-peraturan hukum sehubungan dengan kasus yang ditangani dan peran yang dijalankan.

Pasal 10

PENDELEGASIAN PEKERJAAN PADA ORANG LAIN

Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi yang mendelegasikan pekerjaan pada asisten, mahasiswa, mahasiswa yang disupervisi, asisten penelitian, asisten pengajaran, atau kepada jasa orang lain seperti penterjemah; perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk:


a)



menghindari pendelegasian kerja tersebut kepada orang yang memiliki hubungan ganda dengan
penarima
jasa dan atau praktik psikologi, yang mungkin akan mengarah pada eksploitasi atau hilangnya objektivitas


b)



memberikan wewenang hanya untuk tanggung jawab dimana orang yang diberikan pendelegasian dapat diharapkan melakukan secara kompeten atas dasar pendidikan, pelatihan atau pengalaman, baik secara independen, atau dengan pemberian supervisi hingga level tertentu; dan


c)



memastikan bahwa orang tersebut melaksanakan layanan psikologi secara kompeten.

Pasal
20


INFORMED CONSENT



Setiap proses penelitian atau pemeriksaan psikologi yang melibatkan manusia harus disertai dengan
informed consent.




Informed Consent


adalah persetujuan dari orang yang akan menjalani pemeriksaan
psikologi
atau orang yang menjadi subjek penelitian,
wali dari individu yang akan menjalani intervensi psikologis pada individu yang masih di bawah umur atau yang mempunyai gangguan baik secara fisik ataupun psikis
untuk terlibat dalam proses penelitian psikologi yang dinyatakan dalam bentuk tertulis dan ditandatangani oleh orang yang menjalani pemeriksaan/yang menjadi subyek penelitian
atau wali dari subyek intervensi
dan saksi.
Aspek-aspek yang perlu

dicantumkan

dalam
informed consent
adalah:


a.



Kesediaan untuk mengikuti penelitian dan atau praktik psikologi tanpa


paksaan
dan kerelaan wali terhadap intervensi yang akan dilakukan



b.



Perkiraan lamanya penelitian dan atau praktik psikologidan intervensi




c.





Gambaran tentang apa yang akan dilakukan dalam proses penelitian, dan atau praktik tersebut


d.



Keuntungan dan atau risiko yang dialami selama proses tersebut

Popular:   Aplikasi Psikologi Pendidikan Dalam Praktek Pembelajaran Di Kelas


e.



Jaminan kerahasiaan selama proses tersebut


f.



Orang yang bertanggung jawab jika terjadi efek samping yang merugikan selama proses tersebut.

Pasal 26

PENGUNGKAPAN KERAHASIAAN DATA


( 2)



Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi
perlu memiliki kesadaran
bahwa untuk pemilikan catatan dan data yang termasuk dalam klarifikasi rahasia, penyimpanan, pemanfaatan, dan pemusnahan data atau catatan tersebut diatur oleh prinsip legal.


Soal 2.



Pelanggaran yang dilakukan terhadap klien dari film Running With Scissor ditinjau dari       Kode Etik Psikologi:

Dilihat dari sisi Kode Etik Psikologi Indonesia tindakan yang dilakukan oleh dokter Finch dapat dikategorikan sebagai tindakan malpraktek. Dari awal pertemuan Deirdre dengan dokter Finch sudah terlihat malpraktek yang dilakukan oleh dokter tersebut. Seperti ketika dengan cepat dokter memutuskan bahwa suami Dierdre seorang pecandu alkohol, mempunyai keinginan bunuh diri, dan merupakan ancaman bagii stri, anak, serta dirinya sendiri, tanpa melalui tahap pemeriksaan psikologis yang sesuai prosedur. Hal tersebut tidak dapat dibenarkan, apalagi yang melakukan adalah Psikiater dan menyangkut masa depan sebuah keluarga.

Penyimpangan yang lainya ketika dokter Finch mengadopsi pasiennya, baik Neil Bookman ataupun Augusteen Borroughs sendiri. Seharusnya antara konselor dengan klienya tidak boleh ada hubungan apalagi jika dikemudian hari konselor hanya memanfaatkan sang klien dengan mengambil keuntungan baik secara materiil maupun non-materiil. Kelakuan dokter Finch telah melanggar batasan-batasan dalam kode etik, dengan memanfaatkan uang asuransi dan uang dari kliennya untuk memperkaya dirinya sendiri.Hal ini juga sudah termasuk ke dalam hambatan bersikap professionalisme yang bersifat  subjektif.

Profesionalitas dari dokter Finch sendiri juga perlu dipertanyakan, hal ini terkait dengan kompetensi, sikap dan penampilan yang ia miliki. Dalam hal kompetensi, dokter Finch terlihat sangat meragukan. Hal tersebut terlihat ketika ia menyarankan Augusteen untuk melakukan percobaan bunuh diri. Bukankah seorang psikiater yang mempunyai kompetensi tinggi tidak akan menyarankan hal tersebut pada klienya, seberat apapun masalah yang dihadapinya. Dalam kesempatan yang lain, dokter Finch juga tidak berusaha mencegah perilaku homoseks (lesbidan Gay), baik yang dilakukan oleh Dierdredengan Frendan Auguteen dengan Bookman. Seorang psikiater yang professional, bukan malah menjerumuskannya. Untuk sikap dan penampilan, dokter Finch tak layak disebut sebagai seorang psikiater yang professional. Hal ini terlihat dari rumahnya yang berantakan dan jauh dari kata rapi, sampah berserakan di mana-mana.

Popular:   Kenapa Psikologi Identik Dengan Warna Ungu

Dalam memberi akan obat penenang kepada pasiennya sendiri dokter Finch tidak mempunyai pedoman-pedoman tertentu. Tak jarang pasien yang sebenarnya tidak butuh obat penenang malah diberi obat dengan jumlah dosis yang besar. Seperti yang sering dilakukan pada Deirdre, sesekali Augusteen juga diperlakukan seperti demikian.Dokter Finch tidak memperhitungkan bagaimana efek yang akan terjadi pada klien. Lagi-lagi masalah profesionalime terutama soal wawasan menjadi yang utama dalam kasus malpraktek yang dilakukan oleh dokter Finch ini.

Hal gila yang tidak bisa diterima oleh akals ehat yang dilakukan olehd okter Finch ialah pada suatu pagi ia berteriak-teriak membangunkan seisi rumah untuk memberitahukan bahwa kotoran pagi sang dokter, ujung gulungannya muncul dari permukaan air kloset, yang menurut dokter Finch “keadaan melihat ke atas, kotoran menunjuk ke surga, ke Tuhan!” hal ini berarti situasi keuangan dokter Finch yang selama ini morat-marit akan berubah. Dokter Finch juga berkata bahwa kotoranya adalah komunikasi langsung dari Tuhan. Tanggapan atas hal ini adalah, seharusnya sebagais eorang psikiater, dokter Finch harusnya menghindari hal-hal yang berbau mistis dan di luar akal manusia. Hal ini menjadi penting karena tugas psikiater selalu berhubungan dengan orang-orang. Apabila semua hal yang dikeluhkan oleh klien dihubungkan dengan hal-hal mistis maka bukan kesembuhan yang akan didapat oleh klien, melainkan justru bertambah parahnya penyakit sang klien.

Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi Di Indonesia

Source: https://wachyuaugerahterindah.blogspot.com/2014/01/kasus-pelanggaran-kode-etik-psikologi.html